Kesenian & Kebudayaan

Posted: Mar 05, 2014 Kategori: Sosial Budaya

Daya tarik wisata di Sulawesi Tenggara merupakan perpaduan antara karakter Alam yang kuat dan kebudayaan,Seperti daerah lain yang juga memiliki nilai-nilai tradisi yang kental. Disulawesi tenggara juga terdapat upacara adat warisan turun temurun, keunikan upacara adat yang kita miliki tentunya wajib dilestarikan demi kemajuan budaya dan dan wisata Indonesia, disulawesi tenggara sendiri memiliki banyak upacara adat yang turun temurun menjadi warisan leluhur,berbagai warisan sejarah kepurbakalaan serta eksistensi sosial dan budaya yang unik dan khas ditengah masyarakat acara adat serta seni tradisional, Seperti daerah lain yang juga memiliki nilai-nilai tradisi yang kental Peninggalan budaya masa lalu memberikan karakteristik dan kekayaan nilai-nilai budaya yang hingga saat ini dapat dilihat pada pola/tradisi dikehidupan masyarakat . Eksisting budaya inilah yang memberikan fenomena unik bagi pengembangan pariwisata yang berbasis pada nilai-nilai budaya disulawesi tenggara sendiri memiliki banyak upacara adat yang turun temurun menjadi warisan leluhur antara lain:
- upacara adat Bangka mbule-mbule dikabupaten Wakatobi
- Upacara adat religi Qunua oleh masyarakat Buton Raya
- Upacara adat Posuo oleh Masyarakat Buton Raya
Selain upacara adat yang kental akan nilai-nilai tradisi disulawesi tenggara juga kaya akan seni lainya yaitu Seni tari tradisional
seperti Tarian Rakyat Malulo. Tarian Malulo atau Lulo (dari bahasa tolaki: Molulo), merupakan salah satu jenis kesenian tari tradisional dari daerah Sulawesi Tenggara. Suku Tolaki sebagai salah satu suku yang berada di daerah inimemiliki beberapa tarian tradisional, salah satu tarian tradisional yang masih sering dilaksanakan hingga saat ini adalah tarian persahabatan yang disebut tarian Lulo. Pada zaman dahulu, tarian ini dilakukan pada upacara-upacara adat seperti: pernikahan, pesta panen raya dan upacara pelantikan raja, yang diiringi oleh alat musik pukul yaitu gong. Tarian ini dilakukan oleh pria, wanita, remaja dan anak-anak yang saling berpegangan tangan, menari mengikuti irama gong sambil membentuk sebuah lingkaran. Filosofi tarian Lulo adalah persahabatan, yang biasa ditujukkan kepada muda mudi suku tolaki sebagai ajang perkenalan, mencari jodoh, dan mempererat tali persaudaraan. Tarian ini dilakukan dengan posisi saling bergandengan tangan dan membentuk sebuah lingkaran. Peserta tarian ini tidak dibatasi oleh usia maupun golongan, siapa saja boleh turut serta dalam tarian Lulo, kaya-miskin, tua-muda bahkan jika Anda bukan suku Tolaki atau dari negara lain bisa bergabung dalam tarian ini, yang penting adalah bisa mengikuti gerakan tarian ini.
Aduan Kuda. Merupakan tradisi kuno rakyat Muna, Kapogihara Adhara atau aduan kuda, salah satunya. Tradisi yang menggambarkan betapa pentingnya kuda dalam kehidupan orang Muna. Aduan kuda menjadi kegiatan rutin setiap HUT Kemerdekaan RI dan Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha. Kecuali di Desa Lathugo Kecamatan Lawa, aduan kuda ini diselenggarakan tiap bulan. Makana aduan kuda ini adalah mencerminkan kekuatan dan keuletan dalam melaksanakan tugas, kewajiban yang diamanatkan sekalipun dengan mempertaruhkan jiwa dan raga. Pada jaman Kerajaan di Muna, aduan kuda ini selalu dipertontonkan kepada tamu-tamu kerajaan.
Kerajinan Perak Kendari. Kerajinan perak Kendari sudah terkenal akan keindahan, keanggunan dan kehalusannya yang tidak kalah dengan beberapa pusat kerajinan perak di Indonesia misalnya: di Jawa ada di Kotagede (Yogyakarta), Bangil (Jawa Timur), Celuk di Bali, Sumatera di Padang. Konon motivasi kerajinan perak di Kendari ini diawali dengan mengamati seekor laba-laba sedang membuat sarangnya, dengan sebuah jarum dan benang perak mulailah dibuat segala bentuk hiasan, bingkai-bingkai perak dan mengisinya dengan jaringan benang perak yang halus. Kemudian perhiasan diciptakan berbentuk bunga anggrek, mawar atau bahkan sarang lab-laba. Juga bentuk-bentuk yang lebih besar seperti kapal layar, cerek dan lain sebagainya. Lokasi tepanya di pusat Kota Kendari.
Mesjid Muna. Mesjid ini berada di dalam kompleks kerajaan Muna. Kompleks kerajaan Muna dibangun sekitar tahun 1.600 M yang dikelilingi oleh tembok sepanjang 8.073 m. Didalamnya terdapat situs sejarah seperti mesjid pertama di Muna dan batu pelantikan para raja.
Tari Ntiarasino. Tari ini menggambarkan ungkapan bahasa sastra Muna kepada orang yang menjadi patriot sebagai pejuang tanah air dan juga ungkapan rasa harus mereka yang sangat mendalam. Biasanya tari ini dibawakan oleh 6 orang putra putri dengan menggunakan perisai dan tombak.

Lihat PDF
Isi situs bersifat informatif bukan merupakan legal opinion dari Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara. Apabila terdapat data elektronik based yang berbeda dengan data resmi paper, maka yang menjadi acuan adalah data resmi paper based.